Selamat Datang ke Perbatasan

Dulu….

Kalau gue ditanya, orang tua asli mana, gue akan jawab asli Kalimantan Timur.

Tapi sejak tahun 2012, ketika dibentuk daerah otonomi baru yaitu Kalimantan Utara, beberapa region jadi “berpisah” dari KALTIM. Maka tempat kelahiran dan juga tempat bokap gue bekerja menjadi KALTARA instead of KALTIM.

Jadi…

Sekarang kalau ditanya, orang tua asli mana, maka gue akan menjawab KALTIM dan KALTARA.

Bokap gue tinggal dan bekerja di Nunukan dari tahun 1999 , sedangkan nyokap tinggal di Samarinda sampai tahun 2016, kemudian pindah ke tempat bokap. Terakhir gue berkunjung ke tempat bokap itu jauh sebelum namanya berubah menjadi KALTARA. Sepertinya sudah 14 tahun ahhaha…

Nah dalam rangka Natal 2017 kemarin, mumpung ada liburan, atas permintaan mamanda dan papanda,gue menginjakan kaki ke Nunukan lagi. Nunukan itu kalau lihat di peta, adanya di moncong ujung pulau Kalimantan. Kalau mau ke Malaysia (Sabah) tinggal ngesot pake perahu , sejam udah sampai.

Untuk kesana, gue ngambil flight pagi dari Jakarta pakai Batik Air jam 02.45 AM tanggal 22 Desember. Ngantuk asli bettt…

Untungnya ini flight direct ke Tarakan. Biasanya harus transit bentar ke Balikpapan dulu baru terbang lagi ke Tarakan.

Sesampainya di Tarakan, bokap sudah menunggu. Gue minta diajak breakfast ke tempat favorit gue , namanya warung Aseng. Makanan dan minumannya sangat old school ditambah penampakan warung yang jauh dari nuansa coffee shop jaman sekarang, membuat gue selalu minta kesini tiap kali berkunjung. (Kalau ke Tarakannya sih sering, karena tempat transit kalau mau ke Derawan 😬).

Jam 13.00 gue berangkat ke Nunukan menggunakan Susi Air yang hanya bermuatan 12 orang. Gue paling demen dah naik Susi Air, pilotnya ganteng-ganteng  hahaha. Berhubung pesawat kecil, jadi bisa dengan jelas ngeliat tampang  babang pilot dan co-pilot nya. Sayang 20 menit aja udah nyampe …hufff! (giliran pilot ganteng aja, cepet nyampenya!)


Kalau ngeliat dari atas, keliatan banget Nunukan ini seperti bayi, yang pure dan innocent, belum terjamah #apaansih.Isinya kebanyakan ya hutan dan berhubung lagi musim liburan, maka kabupaten yang sudah sepi ini pun jadi tambah sepi lagi.

Beneran sepi bangeeet ini tempat tapi somehow jadi sangat menyenangkan, jauh dari hiruk pikuk ibu kota. Cuma ketika malam bener-bener horror, dengan lampu jalan yang minim.

Sorenya, gue diajak ke tempat sarang burung walet yang lagi dibangun sama Bokap. Lokasinya lumayan jauh tapi mayanlah jadi tempat foto-foto dan malamnya gue ketemu Beruang Madu hahahaha.

Gue sering mendengar cerita mengenai perbatasan, katanya ada satu rumah yang ruang tamunya di Indonesia, dapurnya di Malaysia. Maka minta diajaklah gue ke tempat itu di hari beriukutnya. It took 15 minutes menggunakan perahu menuju Pulau Sebatik dari Nunukan.

Serasa anak tunggal, gue senang berangkat bertiga bareng nyokap bokap (maklumin aja ya jarang ketemu). Sesampainya di sana, kita harus naik mobil lagi sejam an untuk mencapai tugu AMBALAT (ambang batas laut).

*Oooooh jadi ini toh yang heboh banget waktu itu ribut-ribut dengan Malaysia*.

On the way ke tugu tersebut, gue di dongengin sama bokap nyokap. Jadi, Pulau Sebatik itu terkenal dengan kualitas pisang-pisangnya yang bagus dan besar (why does it sound wrong in my head?) . Dulu orang Malaysia sering beli pisang dari Pulau Sebatik ini. Hingga suatu hari, ada pebisnis Malaysia yang ngerayu masyarakat untuk ngejualin bibit pisang dan as expected mereka bisa buat kebon sendiri di negaranya. Jadilahh demand untuk pisang dari negara tetangga menurun drastis.

Haishh masyarakat ini perlu memang di edukasi untuk melindungi mata pencaharian mereka sendiri for the long term sake.

Anyway, tibalah gue di rumah legendaris itu. Di depannya ada dua tentara muda ngejagain si perbatasan ini. Sayang sekali empunya rumah lagi tidak ada jadi ngga bisa masuk dan foto di dalam. Ya udahlah foto sama babang tentaranya aja.

 

“Bang, kan penjaga perbatasan harus galak, ntar difoto tampang muka galak ya!”

“yah saya mah ngga bisa galak mbak” kata salah satu babang.

Next stop ke Tugu Ambalatnya…Gue sebenarnya ngga ngikutin sih kasus Ambalat waktu lagi heboh-hebohnya. Gue malah ngira Ambalat itu nama pulau 😀 😀 ternyata ada kepanjangannya.

Sebelum balik ke Nunukan, gue di ajak ke tempat kenalan bokap nyokap. Mayan dimasakin makan siang dan bobo cantik sebelum melipir ke pantai. Pantainya sih biasa aja ya, tapi lumayan lah.

Gue ngga lama di Nunukan karena harus balik kerja lagi tanggal 27 nya haha. Tapi sungguh sangat refreshing keluar dari Jakarta for a while. Gila ya kalau dipikir-pikir, gue udah ngelakuin banyak hal di Nunukan, tapi waktu tetap terasa begitu lama, giliran di Jakarta, kayanya 24 jam ga pernah cukup.

Tanggal 26 gue balik ke Jakarta, sebelumnya gue nginep dulu di Tarakan karena masih pengen jalan – jalan (teteup). Kalau ke Nunukan kemarin naek pesawat, gue balik ke Tarakan kali ini pakai boat, 3 jam perjalanan. Sebelum menuju ke bandara, gue minta diajak ke Mangrove forest dulu. Gue pernah sih kesini sekali tapi pengen lagi . Pengen silaturahmi sama sodara jauh (baca: bekantan) .

Si bekantan ini, hidungnya mancung bet, pasti mereka juga ngga mau mengakui gue sebagai sodara jauh sih, secara gue ga ada mancung-mancungnya. Mereka ga agresif kaya sepupu mereka, monyet di Ubud Bali. Lebih senang di pohon ketimbang ngedeketin manusia. Google aja deh Bekantan, gue posting fotonya juga kejauhan. Jadi gue posting foto gue aja ya wwkwkkw..(ga bole protes).

What a great way to spend a short holiday. Grateful for quality time with parents as well as mengenal lebih dekat bumi Kalimantan tercinta.

Gue sebenarnya sudah bawa paspor, ngarep pengen ke Sabah, tapi ternyata pelabuhannya ditutup karena Natal hiks. Udah semangat nelp om yang di Sabah buat jemput gue . Well, maybe pertanda untuk kesana lagi secepatnya, dan ga harus nunggu 14 tahun kemudian ahhaha…

Advertisements

4 thoughts on “Selamat Datang ke Perbatasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s